Anggota CU KK Membaca Koperasi Kuantum
Oleh: Alexander Mering*)
Saya kira buku ini akan seperti buku koperasi lain. Penuh teori. Penuh angka. Penuh nasihat yang sering kali tidak nyambung dengan hidup saya sebagai anggota.
Ternyata saya salah.
Di halaman-halaman awal, saya mulai gelisah. Bukan karena tidak paham, tapi karena merasa sedang “dibaca balik”. Seolah-olah pengalaman saya sebagai anggota CU Keling Kumang selama ini sedang dijelaskan dengan bahasa yang belum pernah saya ketahui.
Saya ingat pertama kali masuk tahun 2000. Tidak ada yang spektakuler. Hanya pertemuan kecil. Obrolan sederhana. Tapi entah kenapa, saya percaya. Padahal uang saya tidak banyak. Pengetahuan saya juga terbatas. Barangkali karena pencetusnya orang Iban, Munaldus bersaudara, saya kenal mereka.
Buku ini seperti membongkar itu semua.
Jawabannya tidak sederhana.
Selama ini kita diajari koperasi itu soal simpan pinjam. Soal bunga. Soal laporan. Tapi di CU Keling Kumang, yang bekerja bukan itu saja. Ada sesuatu yang tidak terlihat tapi terasa.
Kepercayaan.
Di buku ini, kepercayaan itu tidak dianggap sebagai pelengkap. Ia justru jadi inti. Seperti energi yang mengikat semua orang. Saya jadi paham kenapa ketika satu anggota kesulitan, yang lain tidak tinggal diam. Itu bukan aturan. Itu rasa.
Agus menyebutnya dengan istilah yang mungkin terdengar
asing. Keterjeratan. Medan kesadaran. Superposisi. Awalnya saya hampir menyerah
membaca bagian itu.
Keterjeratan itu ya hubungan kami sebagai anggota. Tidak selalu terlihat, tapi nyata. Medan kesadaran itu ya nilai-nilai yang terus diulang dalam pertemuan. Tentang kejujuran. Tentang tanggung jawab. Tentang hidup bersama. Superposisi itu ya posisi kami yang unik. Kami ini anggota, tapi juga pemilik. Kami menabung, tapi juga membangun.
Yang paling menampar saya adalah bagian tentang pemimpin.
Selama ini saya kira pemimpin itu yang paling tahu. Yang memberi perintah. Ternyata tidak. Di CU Keling Kumang, pemimpin lebih seperti penjaga arah. Ia memastikan semua tetap berjalan sesuai nilai. Ia tidak selalu di depan, tapi selalu ada. Mirip dengan Tut Wuri Handayani, semboyan pendidikan Indonesia yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara. Entah mengapa sekarang banyak yang lupa.
Buku ini juga bicara soal pertumbuhan. Dari ratusan ribu menjadi triliunan. Tapi anehnya, angka itu tidak terasa sebagai kesombongan. Justru terasa sebagai akibat.
Akibat dari sesuatu yang lebih dalam.
Saya mulai mengerti maksud Agus ketika ia menyebut koperasi sebagai sistem hidup. Ia bukan mesin. Ia tidak bisa dipaksa hanya dengan aturan. Ia harus dirawat. Dijaga. Dihidupkan.
Dan di situlah saya merasa tersentil.
Selama ini saya hanya menjadi anggota. Datang, menabung, pulang. Saya pikir itu sudah cukup. Ternyata tidak.
Kalau koperasi ini hidup, saya bagian dari hidup itu. Kalau ia melemah, mungkin saya juga ikut melemahkannya tanpa sadar.
Buku ini tidak memberi jawaban instan. Tidak juga memberi rumus cepat kaya. Tapi ia memberi cara baru melihat.
Bahwa koperasi bukan soal uang. Tapi soal manusia.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatannya.
Sayangnya saya lupa bertanya ke penulis buku Koperasi
kuantum ini, apakah beliau sudah menjadi anggota CU Keling Kumang, hehehe?
*) Alumni PPRA LXI, Lemhannas RI & Anggota CU KK
