Preambul Republik Kelamin: Puisi Hibrida Wisnu Pamungkas yang Menyalak


Bahwa sesungguhnya berpuisi itu adalah hak segala bangsa, oleh sebab itu maka penjajahan literasi  dan akal sehat di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikesusastraan dan perikeadilan. Dan aku menulis buku ini karena ada sesuatu yang membusuk di kepala bangsa, dan aku tidak tahan mencium baunya sendirian saja. Republik Kelamin lahir dari rasa mual yang panjang, mual melihat kepalsuan menjadi iklan akademika, mual mendengar doa dijadikan alat tawar-menawar kekuasaan, mual menyaksikan paling tidak 5 tahun sekali rakyat dijadikan pemuas syahwat politik penguasa. 

Seharusnya aku percaya bahwa puisi itu lembut, manis, dan berbunga-bunga, tetapi brutalnya kekuasaan di negeri ini membuat setiap puisi yang kutulis ingin meledak, menjadi amuk jiwa.  Barangkali sebagian orang akan marah setelah membaca buku ini. Tak apa. Kemarahan adalah tanda masih ada denyut nadi di nadi kita. Lagi pula aku menulis puisi ini bukan untuk memuaskan sesiapa. Aku menulis untuk menampar diri sendiri dan siapa pun yang merasa nyaman hidup dalam kebohongan yang rapi dan sudah begitu akut.

Ketika menulis puisi-puisi ini, aku sering merasa seperti tengah menggali liang kubur di sebuah kota. Setiap kata adalah cangkul yang menyingkap bau busuk sejarah. Dari sejak aku mulai mengingat dunia sampai tahun 2025, tak banyak yang berubah di republik ini. Buktinya kita masih saja gemar menjual moral, menggadaikan kebenaran, dan bersembunyi di balik jargon-jargon suci paling beradab. Kita masih sibuk memuja tokoh-tokoh baru yang ternyata hanya perpanjangan tangan dari kerakusan lama.

Di antara puisi-puisi ini, kau akan menemukan ayah yang kehilangan rumah, ibu yang menjual tubuhnya kepada penjajah, anak-anak yang menulis sejarah di atas tisu pengelap toilet. Tapi jangan buru-buru menyalahkan tokohnya. Mereka adalah kita semua. Republik ini adalah rumah tangga besar yang sudah terlalu lelah untuk pura-pura bahagia.

Puisi-puisi dalam buku ini kuseret dari banyak tempat: dari hutan yang ludes dibabat, dari pedalaman dan perbatasan, dari kota yang isinya para alim ulama, dari kamar hotel tempat para politisi menandatangani kontrak dosa dan kenikmatan sesaat. Aku menulis dari pengalaman yang sebenarnya tak ingin kuceritakan, tapi harus kuterjemahkan agar kepalaku sendiri jangan meledak.

Ohya buku ini tidak hanya bisa dibaca. Ia juga bisa didengar. Setiap puisi kusulam ulang menjadi lagu brutal. Aku merangkai nada dan suaranya dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) bukan untuk pamer teknologi, tapi untuk menguji batas: apakah mesin bisa diajar untuk marah, bisa menjerit, menangis seperti manusia? Ternyata meski mesin dapat belajar menggetarkan perasaan, tapi hanya homo sapiens yang bisa menanggung maknanya. AI hanya alat; isi perutnya tetap kita.

Aku ingin pembaca pembaca juga merasakan dentuman di dada. Itulah sebabnya aku memutuskan setiap puisi di buku ini punya nyawa ganda: teks dan suara. Kamu bisa menelusuri QR code di tiap halamannya, lalu mendengarkan versi musiknya yang cadas. Di situ, aku dan mesin berkolaborasi menciptakan bunyi yang mungkin lebih jujur daripada pidato seorang presiden mana pun di dunia.

Aku minta maaf apabila musik yang lahir dari puisi-puisi ini tidak manis. Tidak mendayu-dayu. Ia keras, mentah, hingar bingar, brutal, dan barangkali tak enak didengar. Tapi justru di situlah kejujurannya, karena kehidupan negeri ini memang tidak sedang indah bukan? Bahkan sebuah tagar di media sosial sempat viral dan membuncah. Suara growl dan distorsi gitar yang meledak-ledak adalah gema dari gelisah yang tak bisa diwakilkan lewat bahasa yang santun dan sopan.

Mungkin akan ada yang menuduh buku ini cabul, penuh kemarahan, hujatan dan makian. Tapi bagiku, kata-kata hanya menjadi kotor ketika niat di baliknya kotor. Puisi-puisi ini tidak lahir dari kebencian, melainkan dari cinta yang patah, cinta yang dikhianati berkali-kali, dan cinta yang masih ingin percaya bahwa manusia bisa lebih baik daripada sistem yang diciptakannya sendiri.

Aku menulis Republik Kelamin di antara berita-berita kebohongan, di sela-sela kuliah, di sela rapat-rapat yang membosankan, di tengah kemacetan dan doa yang diperdagangkan. Kadang di meja redaksi, di studio musik, kadang di kamar hotel murah. Dan di setiap tempat itu, aku melihat satu wajah yang sama: wajah bangsa yang lelah dan sakit parah.

Jika setelah membaca buku ini kamu merasa marah, kecewa, atau bahkan malu, berarti puisi-puisi ini telah menuntaskan pekerjaannya. Sebab tugas puisi bukan menidurkan, bukan memberikan solusi, tapi membangunkan nurani yang putus asa, memompa semangat berbangsa dan bernegara kita yang nyaris punah.

Aku tidak tahu ke mana buku ini akan pergi setelah dicetak kelak. Tapi kalau suatu hari nanti kau membacanya dalam sunyi, lalu tiba-tiba mendengar dentuman drum dan raungan gitar di kepalamu, jangan takut. Itu bukan musik dari luar. Itu suara dari dalam dirimu sendiri, suara manusia yang lama bungkam tapi tak mau mengalah.

Selamat datang di Republik Kelamin.
Negeri kata-kata yang lahir dari luka, tapi menolak mati.

 

— Wisnu Pamungkas
Yogyakarta, Desember 2025

 

Type above and press Enter to search.