Pengantar Kumpulan Cerpen Durian Cinta

Buku Durian Cinta karya Wisnu Pamungkas. Dok

Tidak semua cinta lahir dari pelukan. Sebagian justru tumbuh dari luka, dari tanah yang direbut, dari tubuh yang disisihkan, dari mimpi-mimpi yang terpaksa disimpan diam-diam agar tidak dibunuh sebelum sempat berbuah.

Durian Cinta lahir dari wilayah itu. Wilayah yang tidak sepenuhnya mimpi, tidak sepenuhnya nyata. Seperti durian, ia tajam di luar, menyengat baunya, dan sering ditolak sebelum dicicipi. Tetapi bagi mereka yang berani mendekat, ada rasa yang tidak bisa digantikan oleh buah apa pun: manis yang lahir dari pertarungan.

Cerpen-cerpen dalam buku ini tidak ditulis untuk merayu pembaca. Ia tidak menawarkan cinta yang jinak, apalagi kebahagiaan instan. Yang ada justru pertemuan dengan manusia-manusia yang mencintai dalam kondisi paling rapuh: ketika tanahnya dirampas, imannya diguncang, tubuhnya dikorbankan, atau sejarahnya dipaksa dilupakan.

Penulis dan bukunya.

Di dalam buku ini, cinta tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bersentuhan dengan kekuasaan, dengan mitos, dengan agama, dengan negara, dengan alam. Cinta menjadi sesuatu yang politis, ekologis, sekaligus spiritual. Ia bisa menjadi alasan bertahan hidup, tetapi juga alasan seseorang disalibkan.

Sebagian cerita mungkin terasa seperti mimpi yang tidak selesai. Sebagian lain seperti kenangan pahit yang enggan pergi. Namun semuanya berangkat dari pengalaman yang sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini: kota yang berubah menjadi etalase, hutan yang tinggal cerita, tubuh yang dijadikan komoditas, dan manusia yang dipaksa menyesuaikan diri dengan sistem yang tidak pernah ia pilih.

Saya menulis cerpen-cerpen ini dalam rentang waktu yang panjang, di berbagai kota, dalam suasana batin yang tidak selalu ramah. Ada cerita yang tumbuh dari perjumpaan singkat, ada yang berasal dari ingatan masa kecil, ada pula yang lahir dari berita-berita kecil yang nyaris luput dari perhatian. Semua itu bercampur dengan imajinasi, mitos, dan kegelisahan pribadi, hingga membentuk dunia yang mungkin terasa ganjil, tetapi sebenarnya sangat dekat dengan kenyataan kita sendiri.

Tokoh-tokoh dalam buku ini barangkali tampak seperti hidup di luar zaman: pengamen, perempuan bertudung, manusia setengah mitos, orang-orang buangan, penjaga hutan, atau peziarah yang tersesat. Namun mereka bukan simbol kosong. Mereka adalah wajah-wajah yang terus berulang dalam sejarah manusia, hanya berganti latar, kostum, dan bahasa.

Durian Cinta tidak menawarkan jawaban. Ia hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak nyaman: Apakah cinta masih mungkin tumbuh di dunia yang menjadikan tanah dan tubuh sebagai komoditas? Apakah iman tetap suci ketika ia dipakai untuk membenarkan kekerasan? Dan apakah manusia masih punya ruang untuk bermimpi ketika mimpi dianggap berbahaya?

Saya percaya sastra tidak bertugas menenangkan. Ia hanya perlu jujur. Dan kejujuran sering kali terasa seperti duri: menusuk, perih, dan tidak mudah dilupakan. Karena itu, buku ini mungkin tidak ramah bagi pembaca yang mencari kepastian. Tetapi bagi mereka yang berani mendekat, yang bersedia mencicipi rasa yang pahit sekaligus manis, buku ini mungkin menemukan rumahnya.

Bacalah cerpen-cerpen ini perlahan. Jangan buru-buru menyimpulkan. Biarkan kata-kata bekerja dengan caranya sendiri. Jika setelah menutup buku ini Anda merasa sedikit terusik, sedikit sunyi, atau membawa pulang pertanyaan yang tidak segera menemukan jawaban, maka Durian Cinta telah menjalankan tugasnya.

Sebab cinta, seperti durian, tidak pernah diciptakan untuk semua orang. Ia hanya menunggu mereka yang cukup berani untuk mendekat.

 

Yogyakarta, Desember 2025

— Wisnu Pamungkas

Type above and press Enter to search.