Epilog Republik Kelamin: Renung dalam Kemarahan


Oleh: Zainal Abidin Suhaili (Abizai)[1]

 

S

ajak tumbuh dan menjalar dari rasa, mimpi, harap, luka, kecewa, marah dan sejarah seorang warga berbangsa dalam sebuah negara. Setiap manusia berhak untuk menangkap dan kemudian meletuskankan himpunan rasanya lewat kata-kata. Hal ini mungkin menyebabkan mengapa Wisnu Pamungkas menampilkan Kumpulan puisi Republik Kelamin seperti ini, berbeza daripada gaya pengucapan lazimnya.

Puisi-puisi Wisnu Pamungkas dalam kumpulan ini tidak diraut dan dilengkungkan untuk meneduhkan rasa. Sebaliknya untuk mengusik, menyegat dan menggugat, menelanjangkan mitos-mitos kebangsaan yang telah lama diterima sebagai mantera kebenaran. Dalam puisi-puis ini, negara muncul melalui simbol yang tidak lagi agung, malah hadir dalam bentuk tubuh, ranjang, iklan, skrin monitor, hutan yang ditebang dan ingatan yang dipadamkan.

Puisi Jakarta Bukan Tanah Air Beta merakamkan sindiran yang tajam dan sinis  terhadap pusat kuasa yang melahirkan mitos kebangsaan melalui bahasa rasmi, media, dan upacara politik. Penyair mempamerkan rupa nasionalisme  dalam bentuk propaganda, konsumsi, dan pengaburan sejarah. Tiada lagi berbekas wajah asli cinta, empati dan jujur:

Jakarta menciptakan mitos-mitos kebangsaan

menipu orang-orang kampung yang sedang bingung

menjejalkan sejarah tentang serdadu yang gagah perkasa

 

Jakarta menciptakan mitos tentang apa saja

melahirkan para penyamun dan kembang gula

ayah mengirim SMS ke pada seorang kolega

 

"Jakarta bukan tanah air beta!"

 

Letusan perasaan dalam sajak ini tidak dibiarkan menjadi liar. Ia dikawal melalui ironi, imejan tajam, dan peralihan suara yang cermat. Menjadikan kemarahan itu berfungsi sebagai renungan, bukan sebuah jeritan semata-mata.

Dalam puisi Negara Kelamin, tubuh menjadi simbol paling intim bagi negara. Hubungan suami isteri menjadi kiasan kepada medan kuasa, penaklukan dan pemecahan wilayah. Di sini, Wisnu menjalarkan kebijaksanaan estetiknya. Persoalan politik dan kebangsaan diturunkan ke ruang domestik, lalu dibesarkan semula sebagai tragedi kolektif:

Tiada yang salah pada hubungan mereka,

tapi ibu mengira telah menjadi pahlawan

ketika berhasil menyesah ayah di ranjang perkawinan

menciptakan khayalan terhadap persetubuhan

menelan lelaki itu mentah-mentah sebagai santapan

 

Ayah tiada mengira kejantanannya bisa menjadi negara,

tetapi akhirnya ia terpaksa berbagi wilayah dengan wanita itu

membuat sempadan dari tirai,

membaca proklamasi sendiri-sendiri di tapal batas

 

Perasaan marah dan kecewa disalurkan melalui permainan bahasa, ironi kanak-kanak (Hom pilahom pimpah!) dan simbol yang mencemaskan. Berupaya menghasilkan kesan yang lebih tajam dan mendalam.

Puisi Bayang Tembawang  mengalihkan renungan ke arah luka sejarah dan kehilangan tanah adat. Puisi ini bergerak perlahan, penuh kesedihan yang tertahan. Perkara ini menampakkan ketinggian penghayatan estetik Wisnu Pamungkas. Alam, mitos leluhur dan identiti komuniti dipaparkan sebagai sesuatu yang dirampas oleh logik pasaran dan pembangunan:

 

Kemana ayah akan pulang,

jika tembawang musnah dicincang

menjadi shampoo dan minyak peransang

dalam trolly belanja selir-selir tersayang

 

Kemana ayah akan pulang,

karena kubur-kubur leluhur sudah jadi bubur,

menjelma mie instant dan kaleng-kaleng biskuit

 

Tak ada yang tersisa dari dongeng tentang enggang

padahal dulu sayap dan paruhnya menyentuh langit

             

 Kemarahan tidak mendadak meletus di sini. Ia tetap hidup membara dalam diam. Menjadi sajak perang yang lahir daripada ketiadaan tempat untuk pulang.

Puisi Virtualisasi Proklamasi Ayah pula menjelma dalam nada ironis dan getir. Negara dilahirkan di hadapan skrin, dibacakan seperti bil utiliti, dan dipimpin oleh presiden utopia yang mengantuk:

 

ayah menekan beberapa tombol, menghubungi rekannya

entah di pulau mana, di laut, dalam hutan atau di angkasa

ayah membaca teks proklamasi itu seperti membaca rekening

tagihan listrik, ayah hanya mengenakan sarung saat

melahirkan negaranya

yang menyeruak bagai tunas di antara slogan-slogan

perdamaian dan pucuk-pucuk senjata

 

ayah menguap dari tempat duduknya:

apa boleh buat ia sudah tercatat sebagai presiden utopia yang

Pertama

 

Penyair  menyimpulkan bahawa dalam dunia kontemporari, kemerdekaan dan kedaulatan telah terjerumus menjadi ritual kosong. Hanya sebuah simulasi yang kehilangan makna sejatinya.

Republik Kelamin  telah memenuhi syarat sebagai sebuah kumpulan puisi yang organik. Setiap puisi mampu berdiri kukuh sebagai karya tersendiri, namun saling menyokong dalam membentuk wacana besar tentang warga, negara dan sejarah. Kesegaran gaya pengucapan, kedalaman renungan dan kawalan emosi menjadikan puisi-puisi ini tidak berhenti di permukaan kemarahan sahaja. Ia meresap jauh ke jalur pemikiran pembaca, menggugah alur perasaan, dan memaksa para pembaca menyoal kembali makna tanah air, negara dan diri.

Puisi-puisi Wisnu Pamungkas tumbuh dan menjalar daripada getar rasa seorang warga yang enggan diam oleh tingkah rakus penindasan. Ia menjadi wadah untuk mengutuskan rasa itu dengan jujur dan berani. Membuktikan bahawa kata-kata masih mampu menjadi medan perlawanan, renungan, dan harapan.

 

 



[1] Penerima SEA Write Award 2017 (Malaysia), Sasterawan Negeri Sarawak ke-5

Type above and press Enter to search.